Cinta Tak Terbalas
Sebenarnya artikel ini dapet dari blog -orang- blum jadi temen,,, hehehe nyuri? ga juga sih hihiihihi tapi mang keren banget walaupun telat banget ngomongin cinta di akhir bulan februari yang selalu ber-moment lope-lope, harusnya di pertengahan. ga papa deh. yang penting bisa nge-refresh pikiran, hati dan diri sendiri tentang -cinta- yang gila-gilaan banyaknya di dunia dan di akhirat kelak.
"Cinta Tak Terbalas"
Publikasi: 21/04/2003 16:48 WIB
www.eramuslim.com
Kadang saya iri melihat orang-orang di sekeliling saya, disayangi
oleh “seseorang”. Apalagi di bulan Februari. Di mana-mana nuansanya
Valentine. Saya memang penganut “tiada pacaran sebelum akad”, tapi
sebagai manusia kadang timbul juga perasaan ingin diperhatikan secara
istimewa.
Saya tidak pernah tahu rasanya candle light dinner. Pun tidak pernah
menerima bunga mawar merah. Tidak ada yang menawarkan jaketnya saat
saya menggigil kedinginan. Atau berpegangan tangan sambil melihat hujan
meteor. (Deuh, Meteor Garden banget! He..he…)
Yah, mungkin saya bisa merasakan sekilas hal-hal itu kalau saya
sudah menikah. Mungkin. Mudah-mudahan. Tapi sampai saatnya tiba,
bagaimana caranya supaya tidak kotor hati?
Lalu saya pun tersadar, tiga kata cinta yang saya rindukan itu sudah
sering saya dengar. Orang tua saya selalu mengucapkannya. Memanggil
saya dengan “sayang” betapapun saya telah menyusahkan dan sering
menyakiti mereka. Mungkin mereka bahkan memanggil saya seperti itu
sejak saya belum dilahirkan. Padahal belum tentu saya jadi anak yang
bisa melapangkan mereka ke surga… Belum tentu bisa jadi kebanggaan…
Jangan-jangan hanya jadi beban…
Tatapan cinta itu juga sering saya terima. Dari ibu yang bergadang
menjaga saya yang tengah demam… Dari ayah yang dulu berhenti merokok
agar bisa membeli makanan untuk saya… Dari teman yang beriring-iring
menjenguk saya ketika dirawat di rumah sakit… Dari adik yang memeluk
saya ketika bersedih. Dari sepupu yang berbagi makanan padahal ia juga
lapar. Dari orang tua teman yang bersedia mengantarkan saya pulang
larut malam. Betapa seringnya kita tidak menyadari…
Tidak hanya dari makhluk hidup. Kasih dari ciptaan Allah lainnya
juga melimpah. Matahari yang menyinari dengan hangat. Udara dengan
tekanan yang pas. Sampai cinta dari hal yang mungkin selama ini tidak
terpikirkan. Saya pernah membaca tentang planet Jupiter. Sebagai planet
terbesar di tata surya kita, Jupiter yang gravitasinya amat tinggi,
seakan menarik bumi agar tidak tersedot ke arah matahari. Benda-benda
langit yang akan menghantam bumi, juga ditarik oleh Jupiter. Kita
dijaga! (Maaf buat anak astronomi kalau salah, tapi setahu saya sih
kira-kira begitulah)
Di atas segalanya, tentu saja ada cinta Allah yang amat melimpah.
Duh… Begitu banyaknya berbuat dosa, Allah masih berbaik hati
membiarkan saya hidup… Masih membiarkan saya bersujud walau banyak
tidak khusyunya. Padahal kalau Ia mau, mungkin saya pantas-pantas saja
langsung dilemparkan ke neraka Jahannam… Coba, mana ada sih kebutuhan
saya yang tidak Allah penuhi. Makanan selalu ada. Saya disekolahkan
sampai tingkat tinggi. Anggota tubuh yang sempurna. Diberi kesehatan.
Diberi kehidupan. Apalagi yang kurang? Tapi tetap saja, berbuat
maksiat, dosa… Malu…
Tentu ada ujian dan kerikil di sepanjang kehidupan ini. Tapi
bukankah itu bagian dari kasih-Nya juga? Bagaimana kita bisa merasakan
kenikmatan jika tidak pernah tahu rasanya kepedihan? Buat saudaraku
yang diuji Allah dengan cobaan, yakinlah bahwa itu cara Allah mencintai
kita. Pasti ada hikmahnya. Pasti!
Jadi, selama ini ternyata saya bukan kekurangan cinta. Saya saja
yang tidak pernah menyadarinya. Bahkan saya tenggelam dalam lautan
cinta yang begitu murni.
Sekarang pertanyaannya, apa yang telah kita lakukan untuk
membalasnya? Kalau saya, (malu nih..) sepertinya masih sering menyakiti
orang lain. Sadar ataupun tidak sadar. Kalaupun tidak sampai menyakiti,
rasanya masih sering tidak peduli dengan orang. Apalagi pada Allah…
Begitu besarnya cinta Allah pada saya dan saya masih sering
menyalahgunakannya. Mata tidak digunakan semestinya… Lisan kejam dan
menyayat-nyayat… Waktu yang terbuang sia-sia…
Kalau sudah seperti ini, rasanya iri saya pada semua hal-hal yang
berbau “pacaran pra nikah” hilang sudah. Minimal, berkurang drastislah.
Siapa bilang saya tidak dicintai? Memang tidak ada yang mengantar-antar
saya ke mana-mana, tapi Allah mengawal saya di setiap langkah. Tidak
ada candle light dinner, tapi ada sebuah keluarga hangat yang menemani
saya tiap makan malam. Tidak ada surat cinta, tapi bukankah Allah
selalu memastikan kebutuhan saya terpenuhi? Bukankah itu juga cinta?
Entah cinta yang “resmi” itu akan datang di dunia atau tidak. Tapi
ingin rasanya membalas semua cinta yang Allah ridhoi. Tulisan ini bukan
untuk curhat nasional. Yah, siapa tahu ada yang senasib dengan saya J Yuk, kita coba sama-sama. Jangan sampai ada cinta halal yang tak
terbalas…