-the First, kaRena dirImu tak Sempurna-
Hari ini hujan, sedari pagi. Aku baru saja
menikmati suaramu dari jauh diseberang sana. Seperti bertatap muka. Sekedar
tersenyum ketika cerita-ceritamu menyenangkan. Tertawa kecil ketika gurauanmu
menghempas benakku, berempati dengan kekecewaanmu pada sesuatu hal, cambuk
untukku dalam koreksimu terhadap sikapku. Sesekali mukaku memerah atas
pujianmu. Sungguh, aku melihat diriku sendiri di cermin. Untungnya kamu tak
melihatnya, kalau tidak. Entah seperti apa tingkahku.
Kamu memang berbeda. Sangat berbeda.
Bersyukur aku pernah mengenalmu. Menemukan engkau yang begitu ‘unik’ dalam
batinku. Menemukan penggalan-penggalan impian yang tercecer. Menemukan penyulut
semangatku kembali. Menjadi air jika aku si api. Ya, itulah kamu.
Aku benar-benar menjadi orang paling kecewa
ketika janjimu tak kau tepati. Sebesar apa kekecewaan ini aku tak tahu, tapi
tetap saja dengan mudah aku memaafkanmu. Sangat mudah. Sepertinya selesai
begitu saja. layaknya para terdakwa meminta ampun dengan si tuan hakim. Muka
tak bersalah dan berusaha bersikap baik dimuka peradilan. Ya, aku benar-benar
berusaha memaafkanmu. Padahal rasa ‘kecewa ‘ itu belum luntur sepenuhnya.
Karena kekuranganmu itulah, aku tak
melihatmu sebagai sosok yang ideal. Seperti sosok yang aku cari. Sosok yang
mendekati sempurna, tidak. Aku tak merasakan itu sepenuhnya. Karena kamu memang
tidak sempurna. Sangat tidak sempurna. Banyak hal yang berbeda antara kita.
Sangat. Karena perbedaan yang layaknya ‘bumi dan langit’ itulah yang membuatmu
tak tampak sempurna di mata hatiku.
Tapi karena kamu tak sempurna maka kamu
hidup dihatiku. Hidup.
Tapi karena kamu tak sempurna maka kamu
nyata dihatiku. Nyata.
Tapi karena kamu tak sempurna maka aku,,,
,,, ada untuk mengisi kekuranganmu.
Kamu tahu? Saat ini aku sedang berusaha
mematikan “hidup dan nyata” tentangmu dihatiku. Mematikan semua kenangan
denganmu. Sengaja. Karena aku tak ingin kau “hidup dan nyata” saat ini.
Waktunya tidak tepat. Sangat. Aku tak ingin melukai perasaanmu. Aku tak ingin
menyakiti hati ini. Aku tak ingin berbuat kesalahan yang sama untuk kesekian
kali. Ya, aku tak ingin membuat istana debu di hatiku. Aku tak ingin membuat
impian-impian yang tak pasti denganmu. Sungguh, aku menyukaimu seperti engkau
memberikan impian-impian cantik untukku tapi aku tak ingin membuatmu terluka.
Tidak.
Aku hanya ingin jujur padamu. Setidaknya aku
bisa berbagi padamu. Biarkan tangan TUHAN yang bermain, bukan tangan kita.
Biarkan IA yang mengatur sebagai cobaan atau anugerah atas pertemuan ini. Ya,
aku hanya ingin berbagi padamu dengan segala ketidaksempunaanmu.
***untukmu “air penyejuk” atas si api yang
sedang menyala hebat*** 5:04 AM