bLognYa munA

bE fiGht… bE feAt… bE foCus!!!

Ingin Cepat Kaya?…

Filed under: coRetAn... — ku74yy113-mun at 5:45 pm on Tuesday, December 4, 2007

tulisan ini dapat dari milis…
menarik juga.. :)

Ingin Cepat Kaya? Buruan
Menikah!
 

Pernikahan itu pasti indah, nyaman, dan menyenangkan. Itu
garansi dari Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana tertuang dalam firmanNya
yang suci (Q.S 30:21). Apabila ada ungkapan “Pernikahan tidak selamanya indah”, pasti ada eror yang dilakukan oleh para pelaku pernikahan. Entah
itu berupa pelanggaran atas rambu-rambu yang telah ditetapkan dalam proses
pencapaiannya. Ataupun sikap manusia yang makin tidak apresiatif terhadap
kewajiban universal dari Pencipta alam semesta ini.


Islam memandang, pernikahan bukan saja sebagai satu-satunya
institusi yang sah, tempat pelepasan hajat birahi manusia terhadap lawan jenisnya. Tapi yang tak kalah penting adalah, pernikahan sanggup memberikan jaminan
proteksi pada sebuah masyarakat dari ancaman kehancuran moral dan sosial.


Itulah sebabnya, Islam selalu mendorong dan memberikan kemudahan-kemudahan bagi manusia untuk segera melaksanakan kewajiban suci itu.
Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan
orang-orang yang layak menikah dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki serta
hamba-hamba sahayamu yang wanita. Jika mereka miskin, Allah akan membuat mereka
kaya dengan karuniaNya. Dan Allah Maha Luas pemberianNya lagi Maha Mengetahui,

(Q.S 13:38)

Dalam haditsnya, Rasulullah SAW juga menekankan para pemuda
untuk bersegera menikah.
Wahai generasi muda,
barangsiapa di antara kalian telah mampu menikah, maka segeralah menikah.
Karena sesungguhnya menikah itu lebih menjaga kemaluan dan memelihara pandangan
mata. Barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa
menjadi benteng (dari gejolak birahi)
” (HR Bukhari).


Dari sini makin jelas, kemana orientasi perintah menikah itu sesungguhnya.
Tujuan pembentukan institusi-institusi pernikahan (keluarga) tak lain adalah,
agar terpancang sendi-sendi masyarakat yang kokoh. Sebab keluarga merupakan
elemen dasar penopang bangunan sebuah masyarakat. Dengan kata lain, masyarakat
akan kuat dan kokoh apabila ditopang sendi-sendi yang juga kokoh. Dan kekokohan
itu tidak mungkin tercapai kecuali lewat penumbuhan institusi-institusi
keluarga yang bersih.


Pasal kewajiban menikah adalah merupakan sunah Nabi SAW yang
harus ditaati setiap Muslim, tidak akan kita bahas lebih jauh di sini.
Begitupun soal pernikahan merupakan aktualisasi keimanan atau aqidah seseorang
terhadap Tuhannya, juga tidak akan kita perpanjang dalam tulisan ini. Sehingga
dia menjadi alasan mendasar Islam, kenapa pernikahan hanya sah jika dilakukan
oleh pasangan manusia yang memiliki aqidah, manhaj (konsep) hidup, serta tujuan
hidup yang sama. Yakni mencari keridhoan Allah ‘Azza wa Jalla.


Ada sisi krusial lain dari pernikahan yang akan kita bahas
lebih jauh. Yakni pernikahan dan kaitannya dengan peradaban manusia. Pasal ini
yang mungkin jarang dicermati oleh kebanyakan masyarakat, termasuk masyarakat
Islam.

Bahwa ada korelasi kuat antara keberadaan institusi
pernikahan dengan potret masyarakat yang akan muncul (seperti telah disinggung sebelumnya),
adalah tidak bisa kita pungkiri. Sebab indikasinya gampang sekali dilihat dan
dirasakan. Masyarakat yang menghargai pernikahan, pasti mereka merupakan
masyarakat yang beradab. Demikian sebaliknya.


Maka tatkala kita telusuri, apa penyebab masyarakat Barat
menjadi masyarakat yang tumbuh liar tanpa nilai-nilai etika, moral, dan agama.
Itu sangat mudah kita pahami. Lantaran mereka adalah masyarakat yang tidak
memahami makna sakral pernikahan. Hasrat seksual menurut mereka, bisa mereka
lampiaskan kepada siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Sehingga tak ada
kaitan antara kehormatan dan kesucian seseorang dengan pernikahan.


Dari sinilah awal munculnya masyarakat Barat yang tidak
beradab. Mereka menjadi masyarakat pemuja syahwat, menawarkan budaya
buka-bukaan aurat alias telanjang, memamerkan secara vulgar budaya hidup seatap
tanpa menikah antara laki-laki dan wanita. Maka kasus-kasus perceraian kian
tidak terhitung jumlahnya. Ribuan anak-anak lahir tanpa jelas nasabnya (garis
keturunannya) . Setelah besar, generasi tanpa bapak itu pun membentuk komunitas
anak-anak jalanan yang selalu menimbulkan problem bagi masyarakat mereka
sendiri. Dari situlah siklus budaya nista bermula.


Ironisnya, dalam masyarakat Islam pun mulai muncul sikap
yang kurang apresiatif terhadap perintah menikah. Jika tidak sampai dikatakan
enggan menikah, setidaknya ada gejala masyarakat Islam mulai bersikap
mengulur-ulur waktu pernikahan. Padahal ini sangat berbahaya. Boleh jadi gaya
hidup hedonis Barat yang sangat intens disuguhkan lewat bacaan dan filem-filem,
telah menyebabkan perubahan pola pemikiran masyarakat Islam. Khususnya dalam
menyikapi perintah menikah.


Inilah barangkali yang menyebabkan pasangan muda-mudi dalam
masyarakat kita, lebih senang berlama-lama pacaran ketimbang memikirkan untuk
serius membangun rumah tangga. Kalaupun di sana-sini marak acara-acara pesta
pernikahan, itu mungkin tak lebih hanya sebuah basa-basi kultural. Semuanya
terlepas dari ikatan nilai-nilai religius yang sakral. Sehingga kita sering menyaksikan
pesta-pesta pernikahan, tak lebih hanya sebagai ajang pamer kemewahan dan
bahkan pamer kemaksiatan. Sebab boleh jadi, sebelum pesta itu berlangsung
mereka sudah menjalani praktek-praktek layaknya kehidupan suami-isteri.
Astaghfirullah…!

Kenapa Islam menggesa para pemuda untuk menikah, semakin
jelas kita pahami. Bahwa di tengah maraknya budaya hedonisme yang menjangkiti
dunia, sudah barang tentu institusi-institusi pernikahan kian dibutuhkan
keberadaannya. Namun tentu saja bukan hanya memperbanyak lembaga-lembaga
Robbani itu saja yang kita perhatikan. Tapi yang lebih penting adalah,
bagaimana rambu-rambu suci untuk mencapainya, bisa tetap kita jaga. Sehingga
banyaknya lembaga-lembaga pernikahan berbanding lurus dengan tumbuh suburnya
budaya kesadaran masyarakat untuk memelihara kesucian diri. Dari
keluarga-keluarga yang bersih inilah, kelak akan lahir generasi yang kokoh.


Jika ini yang terjadi, dapat dipastikan janji Allah, bahwa
masyarakat bisa makmur (kaya) dan kuat lewat jalur pernikahan, akan terbukti.
Karena itu makin tertutup alasan bagi para pemuda-pemudi untuk tidak segera
menikah, jika mereka nyata-nyata telah sanggup melaksanakannya. Dengan kata
lain, sikap menunda-nunda untuk segera menikah di kalangan muda-mudi, memang
sangat aneh.


”Aku heran dengan orang yang tidak mau mencari
kekayaan dengan cara menikah. Padahal Allah berfirman; “Jika mereka
miskin, maka Allah akan membuat mereka kaya dengan KeutamaanNya,” kata
Umar bin Khattab r.a. Ayo, tunggu apa lagi? Jangan tunda-tunda pernikahan! (sultoni)

dalemmmm……….. semoga dimudahkan, amin… :)



No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>